WAKAF

Wakaf
Berasal dari al-waqf yang merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja waqafa yang berarti menahan, mencegah, menghentikan dan berdiam di tempat.

Dalam pengertian syar’i, Ash-Shan’any mendefinisikan waqaf sebagai ‘menahan harta yang mungkin diambil manfaatnya tanpa menghabiskan atau merusak bendanya dan digunakan untuk kebaikan’.

Sayyid Sabiq (1971: 378) mengartikan wakaf sebagai menahan harta dan mengambil manfaatnya untuk digunakan di jalan Allah.

Imam Taqiyuddin Abi Bakr (tt.:319) lebih menekankan tujuannya, yaitu menahan atau menghentikan harta yang dapat diambil manfaatnya guna kepentingan kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Abu Bakr Jabir al-Jazaairy (1992:419) menambahkan pengertian ‘menahan’ itu dengan tidak boleh diwariskan, tidak boleh dijual, dan tidak boleh dihibahkan.

Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 215 j.o.pasal 1 (1) PP No.28/1977, disebutkan:

Wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan
melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.

(Dikutip dengan diringkas dari Buku Panduan Zakat karya DR Zain An Najah, Ketua Majelis Fatwa dan Pusat Kajian Dewan Dakwah), dan Buku Zakat Untuk Kesejahteraan Bersama karya Prof KH Didin Hafidhuddin,
Anggota Badan Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

Klik : WAKAF SEKARANG