Menelusuri Lambetana

Menelusuri Pedalaman Lambentana

Laznas Dewan Dakwah

LAZNAS DEWAN DAKWAH – Bukit-bukit tinggi mengepung perjalanan menuju pedalaman Lambentana, Kabupaten Morowali. Bebatuan dan bekas-bekas tanah longsor jadi pintu pembuka jalan saat melewati Kampung Kolo Atas. Hutan belantara, laut lepas, bahkan jurang menganga di hampir seluruh perjalanan. (Menelusuri Pedalaman Lambentana)

Memasuki Desa Lemo yang masih berjarak 1.5 jam dari Lambentana, aroma pendalaman sudah kian mencekat. Ditambah sungai bebatuan yang mengguncang hebat tiap kendaraan yang melaluinya.

“Rasanya ingin menangis. Berat perjalanan ini, sulit menembus wilayah pedalaman,” cetus amil muda Laznas Dewan Da’wah, Melati Fadla, yang ikut bersama tim penjemputan suku Wana untuk bersyahadat masal pada Kamis (13/2). (Menelusuri Pedalaman Lambentana)

Apakah setelahnya selesai? Belum! Tanjakan terjal dengan kemiringan kurang lebih 60 derajat memaksa harus ditembus. Jangan keget bila kendaraan tiba-tiba terhenti dan mulai bergerak mundur.

Makin ditempuh, medan yang dihadapi bertambah berat. Hingga aliran sungai yang deras dan cukup dalam menghentikan perjalanan tim menuju Lambentana.

“Ingin sampai ke Lambentana, tetapi tidak bisa. Hanya bisa sampai di sini (Desa Kroasa), tempatnya 4 KK muslim Suku Wana bermukim,” tutur Ketua Dewan Da’wah Kabupaten Morowali, Ustadz Sigit.

“Inilah (beratnya) kondisi dakwah di Morowali Utara. Ada tanggung jawab besar kita bersama,” imbuhnya saat berada di depan masjid tua Kroasa yang rusak parah dan tidak digunakan lagi selama bertahun-tahun.

Akhirnya, Sebagian Suku Wana yang rencananya dijemput dengan mobil terbuka, mau tak mau harus menggunakan motor dari Desa Salo Biro (Lambentana) menuju Masjid Al-Furqon di pusat Kecamatan Mamosalato.

Bahkan sebagian ada yang berbondong-bondong turun bersama menempuh perjalanan kaki 4-5 hari.

Ingin ikut mendukung dan berkontribusi dalam pengislaman 300 orang Suku Wana di pedalaman Morowali?

Bagikan:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*