Anak Suku Akit, laznaas dewan dakwah

Hafal 30 Juz, Anak Suku Akit itu Menuju Madinah

Laznas Dewan Dakwah

LAZNAS DEWAN DAKWAH Ramadhan 5 tahun silam, anak pedalaman Suku Akit Riau merengek ingin mondok. Setiap bertemu saat shalat berjamaah, kajian remaja, atau hanya berjumpa di jalan, satu yang ditanyakannya lagi dan lagi, ‘’Kapan Putra bisa ke Jakarta. Putra mau mondok Ustadz!!’’ (Hafal 30 Juz, Anak Suku Akit itu Menuju Madinah)

Padahal saat itu, kedua orangtuanya yang belum Islam sama sekali tidak mengizinkan. Belum lagi, waktu itu masih Ramadhan, ‘’Apakah tidak ditunda dulu, menunggu hari raya?’’ tanya Ustadz Alan yang saat itu sedang berdakwah di pedalaman Desa Sonde, Kec Rangsang Barat, Kepulauan Meranti, Prov Riau.

Pertengahan Ramadhan 2015, Ustadz Alan mengadakan perpisahan setelah shalat tarawih. Semua tangis pecah. Ustadz Alan juga meminta do’a ikhlas untuk membawa dua anak suku akit ke Jakarta. Ini kali pertama anak suku akit di Desa Sonde merantau keluar untuk belajar. Bukan waktu yang sebentar mereka harus berpisah dengan keluarga tercinta.

Pengorbanan Cinta Anak Suku Akit

Benar bahwa cinta memang butuh pengorbanan. Maka anak Suku Akit ini rela mengorbankan rasa rindu. Mereka korban waktu kebersamaan dengan keluarga. Namun begitulah cinta, akan mencari jalan-Nya untuk menemukan cinta yang sesungguhnya. Mereka merelakan itu semua untuk meraih jalan ridha dan cinta-Nya. (Hafal 30 Juz, Anak Suku Akit itu Menuju Madinah)

Akhirnya, dengan izin orangtua mereka yang masih menganut kepercayaan nenek moyang serta dukungan masyarakat setempat, Putra dan rekannya, Ridho, berangkat menuju Jakarta. Bersama Usatdz Alan, mereka keluar pedalaman Sonde dengan menempuh jarak yang tidak sebentar.

Di awali dengan perjalanan laut untuk sampai ke kota kabupaten. Lalu menyebrang kembali ke Pekanbaru dengan speedboat. Saat itu menjadi kali pertamanya Putra dan Ridho ke Jakarta. Bahkan mungkin, kali pertama juga ke Pekanbaru.

Ada dua kapal kayu yang di pakai di Desa Sonde. Kapal Sonde dan Sei Niur. Kapal kayu Sonde memang lebih besar. Qadarullah waktu kami berangkat, jadwal operasinya pongpong Sei Niur. Ya agak kecil memang, tapi kenangan di sini yang sangat mengharukan.

Putra dan Ridho yang dibawa pulang ke Jakarta oleh Ustadz Alan ditemani oleh ayah Ridho sampai ke kota kabupaten. Sedangkan orangtua Putra tidak ikut mengantar. Di sepanjang jalan, tidak ada raut sedih dari Putra. Dia kelihatan girang. Sedangkan Ridho di sepanjang jalan menangis. Mungkin itu alasan kenapa ayahnya ikut mengantarkan.

Tekad kuat ingin ‘Putra’ anak Suku Akit ingin mondok

Ditanya Putra oleh Ustadz Alan, ‘’Mike (kamu) tidak sedih?’’
‘’Gak lah Ustadz, Putra Senang. Akhirnya bisa mondok,’’ jawabnya kegirangan.
‘’Mike akan lama tak jumpa dengan orangtua nanti,’’ timpal Ustadz Alan.
‘’Tak ape Tadz, Putra ingin mondok.’’

Alhamdulillah, setelah melalui perjalanan yang panjang, mereka sampai di Pekanbaru, Riau. Akhirnya keduanya mulai kelihatan ‘lupa’ dengan kampung halaman. Inilah pesawat pertama mereka. ‘’Kita terbang Ustadz?’’ tanya Putra. ‘’Iya Put, kita akan terbang dan melihat semua pemandangan dari atas.’’

‘’Subhanallah, kita bisa lihat semua?’’ tanya kembali meyakinkan.

‘’Iya, semakin kita di atas, cakrawala akan semakin luas. Begitulah jika mike berdua mencari ilmu, cakrawala kalian akan luas. Bisa melihat semua hal dengan jelas. Namun ingat, ketika di atas jangan pernah merasa besar,’’ pesan Ustadz Alan sebelum naik pesawat.

Dua tahun berjalan Putra dan Ridho mondok, akhirnya mereka dapat menyelesaikan hafalan Qur’an 30 juz. Dan disitulah Allah lembutkan hati kedua orangtua putra. Akhirnya, keduanya pun bersyahadat. Merasa takjub dengan kekuasaan-Nya cucu Teuteu Suku Akit pertama yang hafal Qur’an.

Tahun ini, Putra sedang mengurus administrasi untuk melanjutkan studi ke Universitas Islam Madinah. Mari kita doakan bersama semoga senantiasa Allah beri kelancaran dan keberkahan.

Doa bagi anak-anak Suku Akit lainnya

Kita doakan juga anak-anak suku Akit yang lainnya, yang menyebar di berbagai tempat belajar. Semoga ketika mereka kembali dapat menjadi penerang untuk kaumnya.

Di luar sana masih banyak putra-putra lainnya yang dengan ketulusan dan kesungguhkan menjadikan Islam jalan hidup yang mulia, meski keluarga belum memeluknya. Maka, pembinaan yang kontinu sangat dibutuhkan di daerah-daerah pedalaman dan rawan pendangkalan agama. Maka kerja dakwah ini bukan kewajiban seorang/ lembaga dakwah saja. Tetapi menjadi kewajiban kita semua sebagai seorang muslim sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Rasulullah SAW bersabda, ‘’Man Zahhaja ghazian fi sabilillah aqad ghaza; barangsiapa yang membantu persiapan pembekalan jihad di jalan Allah, maka sungguh ia dicatat telah berjihad.’’

Maka membantu persiapan dakwah, termasuk bagian dari dakwah. Mari bersama-sama sentuh dakwah Islam hingga dapat membina dan menyelamatkan saudara-saudara kita di pedalaman nusantara.

Bagikan:
  • NFE

    Masyaa Allah… barakallah…
    Semoga semakin byk anak2 penghapal Al Qur’an & berjuang utk agama Allah SWT


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*