LAZNAS Dewan Dakwah - Ustadz Romanto, dai muda Dewan Dakwah asal Banten, tiba di Kampung Uetoli, Kabupaten Tojo Una-una, membawa satu bekal: niat untuk mengabdi. Jauh dari keluarga. Jauh dari tanah kelahiran. Dan harus belajar hidup di tengah bahasa serta budaya yang sama sekali berbeda.
Di sana, sebuah babak baru dimulai. Awalnya, bahasa menjadi tembok. Namun Ustadz Romanto memilih tidak menjadi orang asing. Ia duduk bersama warga, menyantap hidangan adat, mendengar cerita mereka, dan perlahan belajar memahami budaya yang selama ini asing baginya. Sebab terkadang dakwah dimulai dari mau mendengarkan.
Di pedalaman Ampana, masih ada anak-anak yang belum mengenal huruf hijaiyah. Ada pula seorang anak yang datang untuk bersyahadat, diantar langsung oleh kedua orang tuanya yang belum memeluk Islam. Sebuah amanah kecil yang terasa begitu besar.
Ustadz Romanto pun menjalani kegiatan harian: mengajar di mushola, mendatangi rumah-rumah, bahkan menyisihkan malam untuk menemani ibu-ibu belajar agama setelah seharian bekerja di ladang.
Waktu berlalu, anak-anak yang dulu bersembunyi di balik orang tua, kini berani berdiri di depan jamaah. Mereka belajar Al-Qur’an, hadis, dan muhadhoroh. Bahkan ada yang ketagihan menjadi MC.
Yang dulu dianggap “lambat”, perlahan menunjukkan kemampuan. Dan hari ini, beberapa dari mereka telah mampu menghafal 1 juz Al-Qur’an. Satu per satu, mereka tumbuh.
Selama bertugas, setiap pagi hari, Ustadz Romanto mencangkul dan menanam di ladang. Setelahnya, ia mengajar dan membimbing. Hasil panen dibagikan kepada warga. Ayat-ayat Al-Qur’an ditanam di hati anak-anak.
Hingga suatu hari, di penghujung masa tugasnya, saat melihat sang ustadz merapikan pakaian, anak-anak itu berkerumun dan berkata, “Ustadz, jangan pulang, di sini saja sama kami.”
Mungkin, itulah tanda bahwa pengabdian telah menemukan rumahnya. Di kaki perbukitan Ampana, Ustadz Romanto bukan sekadar mengajar TPA. Tapi ia juga sedang menanam dan mempersiapkan masa depan umat.
Ustadz Romanto dan para dai lainnya berjuang di tengah umat. Menyampaikan ayat demi ayat serta hadir di garis terdepan. Mari dukung dan kuatkan langkah para dai.