Denyut Iman di Perbatasan Belu: Ustadz Maaruf Menjaga Akidah Mualaf Eks-Timor Leste

Waktu Posting : 04 Mar 2026

Loading....

LAZNAS Dewan DakwahPerjalanan menuju Desa Leontolu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, NTT, bukanlah perkara mudah. Butuh waktu sekitar enam jam berkendara dari Kota Kupang untuk sampai ke titik perbatasan ini. Namun, bagi Ustadz Ma'aruf Wailissa, jarak tersebut terbayar tuntas dengan senyum tulus warga binaannya.

Ustadz Ma'aruf, pemuda asal Ambon, Maluku, dai Dewan Dakwah yang kini tengah membina komunitas mualaf Desa Leontolu yang merupakan pengungsi dari Timor Leste.

Menyambung Estafet di Masjid Al-Ghorobah

Ustadz Ma'aruf tidak berjuang dari nol sendirian. Ia melanjutkan perjuangan Ustadz Achwan, dai pendahulu yang telah mewariskan fondasi dakwah berupa tanah wakaf seluas dua hektar, masjid, dan sepuluh rumah untuk warga mualaf.



Kini, Ustadz Maaruf menjadikan Masjid Al-Ghorobah sebagai rumah sekaligus pusat kegiatannya. Dari masjid inilah, ia menjalankan rutinitasnya sebagai imam shalat, guru mengaji, hingga menjadi tempat pengaduan bagi warga.


Dakwah "Hadiah": Strategi Merangkul Anak-Anak Perbatasan
Salah satu tantangan unik yang dihadapi Ustadz Ma'aruf adalah menjaga semangat mengaji anak-anak mualaf yang berasal dari keluarga kurang mampu. Tak jarang, ia harus menyisihkan uang insentif pribadinya untuk membeli hadiah atau camilan sederhana agar anak-anak tetap antusias datang ke masjid.

"Ustadz baik hati, karena selalu kasih kita snack sebelum ngaji," begitulah kesan polos yang paling menyentuh hati Ustadz Maaruf dari murid-muridnya. Kini ada 12 anak yang rajin dan aktif mengaji dengannya.

Bagi Ustadz Maaruf, pengorbanan kecil itu adalah investasi akidah. Ia sadar, di tengah keterbatasan ekonomi keluarga mereka, pendekatan kasih sayang adalah kunci agar mereka mencintai agamanya.



Mengetuk Pintu, Menguatkan Iman
Membina mualaf dengan rentang usia 5 hingga 70 tahun membutuhkan kesabaran ekstra. Selain kajian di masjid, Ustadz Maaruf rajin melakukan "jemput bola" dengan mendatangi rumah warga satu per satu setiap minggunya.

Ia tak hanya datang membawa ilmu, tapi juga membawa telinga untuk mendengar keluh kesah mereka. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan lebih membaur, Ustadz Maaruf tak segan membantu warga berjualan di pasar atau turun ke sawah membantu pertanian mereka.

Hasilnya mulai terlihat. Saat ini dari 39 mualaf yang ia bina, sekitar 40 persennya sudah mulai konsisten menjalankan shalat lima waktu dan belajar membaca Al-Qur'an. Masjid pun kini terasa lebih hidup dan ramai. dari yang sebelumnya tidak sampai 10 orang, kini Masjid Al Ghoroba dipenuhi kurang lebih 27 jamaah setiap waktu shalat.




Kebutuhan Mendesak di Garis Perbatasan
Meski sinyal dan air bersih tergolong aman, perjuangan Ustadz Ma'aruf masih terganjal sarana transportasi. Untuk mobilitas dakwah ke pelosok-pelosok binaan, ia sangat membutuhkan Motor Dakwah.

"Sekitar 1 kilometer dari tempat saya ada namanya kampung Lursik. Di sana mayoritas Katolik, hanya ada 4 keluarga yang mualaf. Mereka rajin datang ke Leontolu ini berjalan kaki demi ikut kegiatan pembinaan." ujar dai Dewan Dakwah itu.

Selain itu, kondisi ekonomi warga mualaf eks-imigran ini masih sangat memprihatinkan. Mereka sangat membutuhkan bantuan logistik berupa Bahan pokok (Sembako), Biaya pendidikan untuk anak-anak, Pakaian layak pakai, dan Kunjungan dai senior untuk menguatkan mental dan "men-charge" iman mereka.



Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainnya dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.

Turut ambil bagian dalam perubahan besar. Sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LAZNAS Dewan Dakwah.


Campaign Lainnya

Semua Cerita Sukses Kami