Qurban Go Green Budaya Pedalaman OeUe

Waktu Posting : 06 Des 2021

Loading....


Tidak seperti kita di perkotaan ketika mendapatkan daging qurban dalam plastik langsung menyimpannya di dalam lemari es. Cukup aman untuk penyimpanan waktu yang lama. Namun, bagi masyarakat NTT, mereka punya acara unik agar daging qurban dapat juga bertahan lama.

Di NTT, khususnya Kampung OeUe, daging qurban didistribusikan tanpa menggunakan plastik. Bertemakan qurban go green, tali dan daun jadi solusi. Iya, daging qurban hanya diikat dengan tali dan beberapa helai daun. Kemudian ditenteng!

Hal ini untuk mempermudah warga menjemur dan mengeringkan daging agar dapat kuat dan bertahan lama.

‘’Masyarakat setempat ketika mendapatkan daging, mereka langsung memotong daging tersebut kemudian dijemur (dikeringkan) supaya bisa bertahan lama tanpa pakai kulkas,’’ ujar Ustadz Masrin Nitbani, guru ngaji pedalaman yang menjadi penanggung jawab qurban di TTS.

‘’Cara seperti ini menjadi budaya pembagian qurban di wilayah TTS. Semua ini sudah diatur Kepala Suku dan para pengurus Masjid,’’ imbuh guru ngaji sarjana alumnus kampus Dakwah STID Mohammad Natsir.

Qurban go green dengan menggunakan tali dan daun ini dilaksanakan di beberapa masjid di Amanuban Timur dan Amanuban Selatan, TTS, NTT. Selain itu, Masjid An-Nur OeUe, Masjid Al-Furqon Nakmofa, Masjid Faut Molo, Masjid Al-Hadid OeLet, Masjid Al-Qodar OeBesa, dan Masjid Al-Anshor Semben.

Respon masyarakat sangat baik atas pembagian qurban di wilayah binaan guru ngaji pedalaman. Sebab, qurban menjadi syiar dan bukti nyata dakwah tidak hanya naik mimbar. Bahkan Tokoh Non-Muslim dan pengurus gereja juga turut hadir menyaksikan proses pemotongan dan pendistribusian hewan Qurban.

Di kesempatan ini, warga setempat menjadi sangat membuka diri terhadap dakwah. ‘’Ada beberapa orang tua yang dating menyerahkan anak-anaknya yang baru tamat SMA kepada saya untuk disekolahkan dengan harapan kelak nanti menjadi Da’i sarjana dakwah seperti saya,’’ pungkasnya.

Campaign Lainnya

Semua Cerita Sukses Kami