Rebutan Daging Kurban: Potret Pilu Minimnya Hewan Kurban untuk Masyarakat Minoritas Muslim di Pelosok Manggarai Timur

Waktu Posting : 08 Mei 2026

LAZNAS Dewan DakwahHari Raya Iduladha seharusnya menjadi momentum kebahagiaan yang merata. Namun, di sebuah titik tersembunyi di pedalaman Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kampung Buntang dan Kampung  Kalo, Desa Compang Teo, Kecamatan Elar, hari raya pernah menyisakan cerita yang menyesakkan dada.

Keterbatasan jumlah hewan kurban sempat memicu ketegangan antarwarga yang berebut untuk mendapatkan sepotong daging.

Peristiwa "rebutan" tersebut bukanlah bentuk ketidaktertiban warga, melainkan manifestasi dari rasa haus akan keadilan di tengah kelangkaan. Di wilayah yang dihuni mayoritas nonmuslim dengan 39 Kepala Keluarga (KK) Muslim ini, kehadiran daging kurban adalah kemewahan yang hanya datang setahun sekali.


Baca Juga: Panduan Cerdas Memilih Hewan Kurban; Syar'i, Sehat, dan Berdampak Luas 

Satu Sapi untuk Satu Kampung

Secara geografis, Kampung Buntang dan Kampung Kalo berada di wilayah perbukitan yang sulit dijangkau. Mayoritas penduduknya adalah petani jagung dan padi ladang yang hidup sangat sederhana di tengah myoritas umat Kristen. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat pengadaan hewan kurban secara mandiri menjadi tantangan besar.

"Dahulu pernah ada kejadian berantem antarwarga karena berebut daging kurban. Hal itu dikarenakan terbatasnya hewan yang disembelih," ungkap Ustadz Wahyu Ilahi. Bayangkan, ketika ratusan jiwa menggantungkan harapan pada satu ekor sapi yang sama, distribusi sering kali menjadi titik kritis yang memicu gesekan sosial.


Titik Balik: Kedewasaan dalam Keterbatasan

Pahitnya pengalaman masa lalu menjadi pelajaran berharga bagi warga Buntang-Kalo. Sejak kejadian itu, masyarakat yang menjunjung tinggi adat Manggarai ini mulai berbenah. Mereka membentuk Panitia Kurban yang solid untuk mengatur pembagian secara lebih tertib, transparan, dan adil.

Meskipun pemahaman agama mereka semakin kuat berkat pembinaan Dai Dewan Dakwah setahun terakhir, faktor ekonomi tetap menjadi tembok penghalang. Keinginan untuk berkurban secara mandiri seringkali kandas karena harga hewan ternak yang tidak sebanding dengan pendapatan hasil tani mereka.


Menanti Ketukan Kebaikan dari Kota
Hingga detik ini, warga Buntang-Kalo pedalaman NTT  masih menyimpan harapan besar setiap kali Iduladha menjelang. Mereka merindukan momen di mana tidak ada lagi warga yang harus pulang dengan tangan hampa.



Bagi mereka, bantuan kurban dari para dermawan bukan sekadar urusan perut, melainkan simbol ukhuwah yang menguatkan hati mereka sebagai minoritas di pelosok negeri.

Melalui jaringan dai dan para donatur LAZNAS Dewan Dakwah, Ustadz Wahyu Ilahi berusaha menyampaikan kebutuhan tersebut. Harapan mereka hanya satu: "ada bantuan hewan kurban yang masuk ke kampung ini agar kebahagiaan hari raya bisa dirasakan semua orang tanpa ada lagi rasa khawatir tidak kebagian," ungkap warga kepada Ustadz Wahyu.

Campaign Lainnya

Semua Cerita Sukses Kami