Loading....
LAZNAS Dewan Dakwah - Sudah hampir 6 bulan Ustadz Halim Walude, dai pengabdian Dewan Dakwah menjalankan amanah tugas di provinsi tanah lahirnya, Sulawesi Tengah. Selama 6 bulan itupun ia membina masyarakat minoritas muslim di Oloboju Kabupaten Sigi.
Amanah dakwah akhirnya memanggilnya melalui orang tua. Keterampilan bekam yang ia pelajari selama menempuh pendidikan di STID M. Natsir Jakarta menjadi wasilah baktinya.
Bersama istri yang baru dinikahinya 3 bulan lalu, Ustadz Halim mengunjungi orang tuanya. Ayahnya kini harus berjuang melawan stroke ringan. Bagian kiri tubuhnya, tangan dan kaki, terasa kram dan kaku, sebuah beban berat yang membuatnya sulit bergerak bebas.
Minggu, 29 Maret 2026 Ustadz Halim memulai terapi bekam untuk sang ayah. Siapa sangka keterampilan bekam yang ia pelajari, selain untuk masyarakat tempatnya berdakwah, kini juga membantu sang ayah.
Baca Juga: Minoritas Muslim di Ujung Batas Negeri, Qurban Jadi Perekat Bersama
Bagi sang Dai, setiap titik bekam yang dilakukan bukan sekadar prosedur medis tradisional, melainkan untaian doa dan bakti.
"Alhamdulillah, sejak pertama kali dibekam, ayah merasakan tubuhnya jauh lebih enteng. Kram yang menghantui perlahan mulai melunak," ungkap sang Dai dengan nada syukur.
Ikhtiar ini tidak berdiri sendiri. Selain wasilah bekam, sang ayah juga rutin mengonsumsi herbal untuk menstimulasi pemulihan sel-sel tubuhnya. Ini adalah perlombaan melawan waktu agar kondisi ayahnya segera kembali bugar seperti sedia kala.
Namun, penyembuhan ini lebih dari sekadar fisik. Di sela-sela proses pembekaman, Ustadz Halim menyelipkan "obat" untuk jiwa sang ayah.
Ia membisikkan hadits-hadits tentang keutamaan bekam sebagai thibbun nabawi (pengobatan ala Nabi).
Ia juga menguatkan hati sang ayah dengan nasihat-nasihat tentang kesabaran. Bahwa setiap rasa sakit adalah penggugur dosa, dan setiap garis takdir adalah bentuk kasih sayang Allah yang sedang menguji hamba-Nya untuk naik derajat.
Sebelum memulai terapi mandiri ini, sang ayah sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas setempat. Kini, perawatan lanjutan dilakukan di rumah dengan sentuhan personal seorang anak.
Baca Juga: Mahar Pengabdian di Tanah Sigi, Sepasang Dai Muda Merajut Ukhwuah di Oloboju
"Ini adalah bentuk Birrul Walidain saya," pungkasnya. Sebuah kalimat sederhana yang menggambarkan kedalaman makna pengabdian seorang anak sekaligus Dai di ujung Sulawesi.
Kini selama proses pemulihan ayahnya, Ustadz Halim bolak-balik dari Sigi ke Banggai. Menjalankan amanah dakwah di tengah umat, juga tidak melupakan baktinya kepada orang tua.