Tiga Tahun Menanti Kurban, Ponpes Al Muhajirin Manado Masih Berjuang untuk Pulih

Waktu Posting : 06 Mei 2026

Loading....

LAZNAS Dewan DakwahTerletak di Kelurahan Bailang, Kecamatan Bunaken, Pondok Pesantren Al-Muhajirin berdiri tegak di wilayah pesisir utara Manado yang dinamis. Di kota yang dijuluki sebagai "Kota Seribu Gereja" ini, pesantren tersebut hadir sebagai oase bagi generasi Islam di tengah lingkungan yang mayoritas beragama Kristen.

Bertahan di Tengah Puing Pasca-Kebakaran

Lembaga yang menaungi sekitar 50 santri penghafal Qur'an ini masih menyimpan jejak pilu. Pada Februari 2025 lalu, lima bangunan pondok hangus dilalap api saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. Hingga kini, puing-puing bangunan tersebut masih dalam tahap pemulihan.

Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi para pengelola, mengingat mayoritas santri berasal dari keluarga kurang mampu, dhuafa, dan latar belakang keluarga yang tidak utuh (broken home). Di tengah keterbatasan fisik bangunan yang belum pulih sepenuhnya, semangat para santri untuk menghafal ayat-ayat suci tidak pernah padam.

Baca Juga: LAZNAS Dewan Dakwah Distribusikan Ribuan Paket Al Qur'an di 12 Provinsi


Tiga Tahun Menanti Gurihnya Daging Qurban

Sejak berdiri tiga tahun lalu, para santri Al-Muhajirin belum pernah merasakan nikmatnya pelaksanaan ibadah qurban di lingkungan mereka sendiri. Selama ini, lauk pauk harian mereka didominasi oleh hasil laut karena faktor lokasi, sementara daging sapi atau kambing menjadi kemewahan yang jarang ditemui.

Kendala utama terletak pada faktor ekonomi dan tingginya harga hewan ternak di Sulawesi Utara. Harga satu ekor sapi di Manado bisa terpaut hingga Rp1.000.000 lebih mahal dibandingkan di Pulau Jawa. Selisih harga yang tinggi ini menjadikan hadirnya hewan qurban di pesantren terasa seperti sebuah keniscayaan yang sulit digapai.

Ustadz Badru Tamam, Dai muda Dewan Dakwah yang ditugaskan melakukan pembinaan di sana, terus berupaya menghadirkan kebahagiaan bagi para santri di sela-sela perjuangan membangun kembali kelas mereka yang terbakar.

Baca Juga: Kurban Sapi vs Kambing, Mana yang Lebih Utama?

"Kami tidak muluk-muluk. Jika sapi terasa berat karena harganya yang tinggi, setidaknya satu ekor kambing atau domba bisa hadir di sini. Kami hanya ingin para santri merasakan bahwa mereka juga berhak atas kebahagiaan dan keberkahan daging qurban," tutur Ustadz Badru Tamam.

Di sela-sela pemulihan itu, para santri tersebut masih menanti kabar hadirnya hewan kurban di Idul Adha tahun ini. Melalui jaringan dai dan para donatur LAZNAS Dewan Dakwah, Ustadz Badru Tamam berusaha menyampaikan kebutuhan tersebut.

Campaign Lainnya

Semua Cerita Sukses Kami