LAZNAS Dewan Dakwah - Jauh di dalam rimbunnya kanopi Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Riau, sebuah komunitas adat masih hidup dalam kesahajaan yang mendalam. Mereka adalah Suku Talang Mamak, masyarakat yang telah lama menjadi penjaga hutan namun kini harus berjuang melawan keterbatasan ekonomi dan akses pangan yang layak.
Dusun Nunusan, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gangsal, Indragiri Hulu, Riau sebuah pemukiman yang dihuni oleh sekitar 18 Kepala Keluarga (KK), momen Idul Adha seringkali terlewati dalam keheningan tanpa keriuhan penyembelihan hewan kurban.
Tiga Tahun Tanpa Aroma Kurban
Sudah hampir tiga tahun lamanya, masyarakat di Dusun Nunusan tidak merasakan nikmatnya daging kurban. Faktor ekonomi menjadi tembok besar bagi warga yang kesehariannya hanya bergantung pada hasil berladang.
Di dusun yang masih belum dialiri listrik itu, tidak ada satu pun warga yang memiliki ternak sapi atau kambing, sehingga pengadaan hewan kurban sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.

(Gambar: Ustadz Awi dengan anak-aanak Sekolah Filial Dusun Nunusan)
Baca Juga: LAZNAS Dewan Dakwah Bangun Sumur Pertama untuk Warga Alfa Koira, Pelosok Niger, Afrika Utara
Kondisi geografis yang menantang semakin memperumit keadaan. Untuk mencapai Dusun Nunusan, bantuan harus dikirimkan menggunakan perahu bot melewati jalur sungai yang memakan waktu sekitar dua jam dari desa terdekat.
Biaya transportasi air yang mahal seringkali membuat lembaga bantuan urung mengirimkan hewan kurban ke wilayah terdalam ini.
Asing dengan Rasa Daging
Keterisolasian ini membawa dampak yang memilukan. Jarangnya bantuan kurban yang masuk dari pemerintah maupun lembaga lainnya membuat daging sapi atau kambing menjadi santapan yang asing bagi warga Suku Talang Mamak.
"Kami masyarakat Suku Talang Mamak jarang sekali mendapatkan atau makan yang namanya daging kurban. Ada masyarakat yang memang tidak terbiasa memakan daging sapi maupun kambing karena saking jarangnya mendapat bantuan tersebut," ungkap Ustadz Awi Andrizal, dai muda Dewan Dakwah yang sudah hampir setahun membina masyarakat pedalaman Talang Mamak.
Bagi mereka, kurban bukan hanya soal ibadah, melainkan pengakuan bahwa keberadaan mereka di jantung hutan Riau masih diingat oleh saudara-saudara di kota.

(Gambar: Ustadz Awi (kanan) dengan warga Suku Talang Mamak)
Baca Juga: 9 Ciri Hewan Sehat yang Wajib Kamu tahu Sebelum Berkurban!
Membawa Senyum ke Jantung Hutan
Tahun ini, melalui pendampingan Ustadz Awi harapan kembali membuncah di Dusun Nunusan. Para warga mulai bertanya-tanya, adakah kiriman daging tahun ini yang akan mampir ke rumah-rumah kayu mereka?
Melalui jaringan dai dan para donatur LAZNAS Dewan Dakwah, Ustadz Awi Andrizal berusaha menyampaikan kebutuhan tersebut, berharap tahun ini masyarakat muslim pedalaman juga dapat merasakan euforia penyembelihan kurban.
Menyalurkan kurban ke Suku Talang Mamak adalah tentang menembus batas geografis demi menunaikan amanah ukhuwah. Setiap paket daging yang sampai ke sana adalah pesan cinta, bahwa di tengah sunyinya Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, ada doa-doa yang akhirnya terjawab.