LAZNAS Dewan Dakwah - Hari Raya Iduladha seharusnya menjadi momentum kebahagiaan yang merata. Namun, di sebuah titik tersembunyi di pedalaman Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kampung Buntang dan Kampung Kalo, Desa Compang Teo, Kecamatan Elar, hari raya pernah menyisakan cerita yang menyesakkan dada.
Keterbatasan jumlah hewan kurban sempat memicu ketegangan antarwarga yang berebut untuk mendapatkan sepotong daging.
Peristiwa "rebutan" tersebut bukanlah bentuk ketidaktertiban warga, melainkan manifestasi dari rasa haus akan keadilan di tengah kelangkaan. Di wilayah yang dihuni mayoritas nonmuslim dengan 39 Kepala Keluarga (KK) Muslim ini, kehadiran daging kurban adalah kemewahan yang hanya datang setahun sekali.

Baca Juga: Panduan Cerdas Memilih Hewan Kurban; Syar'i, Sehat, dan Berdampak Luas
Satu Sapi untuk Satu Kampung
Secara geografis, Kampung Buntang dan Kampung Kalo berada di wilayah perbukitan yang sulit dijangkau. Mayoritas penduduknya adalah petani jagung dan padi ladang yang hidup sangat sederhana di tengah myoritas umat Kristen. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat pengadaan hewan kurban secara mandiri menjadi tantangan besar.
"Dahulu pernah ada kejadian berantem antarwarga karena berebut daging kurban. Hal itu dikarenakan terbatasnya hewan yang disembelih," ungkap Ustadz Wahyu Ilahi. Bayangkan, ketika ratusan jiwa menggantungkan harapan pada satu ekor sapi yang sama, distribusi sering kali menjadi titik kritis yang memicu gesekan sosial.

Titik Balik: Kedewasaan dalam Keterbatasan
