LAZNAS Dewan Dakwah - Perjalanan panjang selama hampir dua hari di laut menjadi bagian tak terlupakan dari kisah pengabdian seorang daiyah muda yang ditugaskan di PPTQ Hubaibah, Pulau Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Wilayah ini termasuk kawasan pesisir terpencil di ujung timur Madura, yang hanya dapat dijangkau melalui jalur laut.
Ustadzah Shally Nur Izzah, berangkat bersama rombongan pengabdian wilayah Jawa Timur menggunakan kereta dari Jakarta menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Sesampainya di sana, mereka dijemput pihak LAZNAS Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan darat sekitar lima jam menuju Pelabuhan Kalianget, Madura.
Dari pelabuhan itulah perjalanan laut dimulai. Kapal perintis yang mereka tumpangi berangkat menuju Pulau Sapeken. Butuh 14-15 jam untuk sampai di Sapeken, di tambah 1 jam lagi untuk kapal mampir di Kangean. Namun, hari itu berbeda, kapal berhenti di Pulau Kangean lebih dari 12 jam tanpa penjelasan pasti, karena itu ustadzah Shally hampir 2 hari menghabiskan waktu di atas kapal.
Baca Juga: Rutin Sedekah Subuh, Kunci dan Pintu Keberkahan dalam Memulai Hari
Perjalanan tidak berakhir di sana, dari Pulau Sapeken, rombongan melanjutkan perjalanan dengan kapal kayu kecil menuju Pulau Pagerungan Kecil. Ombak laut mengiringi hingga akhirnya mereka tiba di dermaga kecil, disambut hangat oleh santri dan pengurus PPTQ (Pondok Pesantren Tahfidzul Quran) Hubaibah. Dari dermaga menuju pesantren, perjalanan dilanjutkan menggunakan sepeda motor kurang lebih lima menit.

“Senang, sedih, campur aduk rasanya,” ungkap daiyah muda tersebut saat mengenang hari pertamanya tiba. Warga setempat, yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, menyambut kehadiran para pengabdi dengan ramah.
Kehidupan di pesantren berjalan dengan disiplin. Hari dimulai sejak pukul 02.30 dengan shalat malam, tilawah, dzikir, dan halaqah pagi, disusul kegiatan belajar mengajar dari pagi hingga siang. Sore hari diisi dengan halaqah, pengawasan ibadah, dan kegiatan hadits hingga malam menjelang istirahat pukul 21.00.
Terlepas dari rutinitas asarama, Ustdzah Shally juga mengajar dikelas dari tingkat SMP hingga SMA.
Tinggal di asrama yang satu lingkungan dengan tempat mengajar membuat aktivitas dakwah lebih efisien. Namun jaringan komunikasi yang lemah dan air serta listrik yang dibatasi penggunaannya masih menjadi kendala kecil di sana. Untuk itu mereka harus hemat dan cermat dalam mengatur penggunaan air dan listrik.

Baca Juga: Di Tengah Laut dan Hutan, Warga Sungai Danai, Pulau Burung, Kini Punya Dai
PPTQ Hubaibah sendiri berdiri tahun 2020 dan diperuntukan bagi anak yatim dan dhuafa keluarga nelayan di pulau terpencil itu. Seluruh santri memperoleh beasiswa penuh, termasuk kebutuhan makan dan perlengkapan sehari-hari mereka. Hingga kini, sekitar 81 santri dibina di sana untuk menghafalkan al qur’an.
Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainnya. Dukung dan ikuti perjalanan mereka dalam Membangun Peradaban dari Pedalaman.