Mabuk Perjalanan 10 Kali demi Menjemput Amanah di Pesisir Toli-Toli

Dipublikasikan : 23 Feb 2026

Mabuk Perjalanan 10 Kali demi Menjemput Amanah di Pesisir Toli-Toli

LAZNAS Dewan DakwahBagi seorang pemuda asal Gresik, Jawa Timur, menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Sulawesi Tengah bukanlah perkara mudah. Namun, bagi Ustadz Muhamad WIldan Ardhi, ini adalah perjalanan menjemput takdir pengabdian.

Perjalanan dimulai dari riuhnya Jakarta menuju Palu, hingga berlanjut ke Kabupaten Toli-Toli. Tantangan terberat muncul saat jalur darat selama 12 jam harus ditempuh melalui medan pegunungan yang berliku tajam.

"Sejak kecil saya mabuk kalau naik mobil. Selama perjalanan itu, saya sampai muntah 10 kali," kenangnya. Namun, rasa mual dan lelah itu menguap seketika saat ia tiba di Pondok Pesantren Al-Amin Aciro, Desa Malulu, Kecamatan Dondo, Toli-Toli, Sulawesi Tengah pada 24 Agustus 2025. Sambutan hangat warga dan binar mata para santri yang haus ilmu menjadi obat penawar yang mujarab.

Baca Juga: Super Apps Z Plus Bangun Ekosistem Dewan Dakwah Lebih Profesional dan Transparan


Oase di Pesisir dan Bakti di Kebun

Desa Malulu terletak di wilayah pesisir yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Sebagai dai pengabdian pertama yang menetap di sana, Ustadz Wildan tidak hanya membatasi diri di dalam ruang kelas. Ia memahami bahwa dakwah adalah tentang membaur dengan kehidupan masyarakat dan gurunya.

Di sela jadwal mengajar yang padat yang diisi dengan Muhadhoroh, Mengajar Ngaji, Halaqah Tahsin dan Tahfidz, Kultum Ramadhan, Khutbah Jum'at, Mengajar di Sekolah dan Pesantren hingga merangkap wali kelas, ia juga turun langsung membantu Mudir (rekan pengajar di pondok) mengelola kebun.

Ada pengalaman unik yang tak ia temukan di Jawa: menjaga jatuhnya buah durian yang mulai masak. Di bawah pohon-pohon besar itu, ia belajar tentang kesabaran. Tak hanya itu, ia juga ikut menanam rumput gajah, memastikan lahan pesantren tetap produktif untuk kebutuhan pakan ternak atau penghijauan.



Perubahan yang Mulai Bersemi

Meski lokasi tugasnya termasuk wilayah yang di pinggir pantai dan jauh dari perkotaan, semangatnya tidak surut. Setiap hari, ia membina sekitar 40 santri dan mengimami 30-an jamaah shalat. Pendekatan personalnya mulai membuahkan hasil:

Baca Juga: Sinar dari Pedalaman, Semangat Anak Tunawicara Melantunkan Al Qur’an

Kedisiplinan: Santri yang awalnya sulit diatur, kini mulai disiplin mengikuti tata tertib pesantren.

Progres Qur'ani: Kemampuan tahsin dan tahfidz anak-anak binaannya meningkat pesat; mereka mulai lancar melantunkan ayat suci.

Adaptasi Budaya: Sebagai anak rantau, ia mulai menikmati kuliner lokal Toli-Toli yang asing di lidahnya, sebuah tanda bahwa hatinya mulai menyatu dengan tanah Sulawesi.

Tidak hanya dalam dunia akademik dan religi, anak-anak binaannya juga berprestasi dalam bidang olahraga. Di bawah bimbingan Ustadz Wildan, grup Sepakbola mereka berhasil menang telak dalam Turnamen U-13 se-Kabupaten Toli-Toli

  

Menjaga Nyala Iman di Tanah Pesisir

Tantangan dakwah tentu masih ada, mulai dari fasilitas yang terbatas hingga santri yang terkadang masih melanggar aturan. Namun, dengan strategi pendekatan Al-Qur'an dan teladan nyata seperti ikut berkebun, Ustadz WIldan yakin bahwa benih iman yang ia tanam akan tumbuh sekuat pohon durian yang ia jaga.

"Kesan pertama saya adalah senang. Bisa bertemu santri yang siap dibina membuat semua lelah perjalanan 12 jam itu terbayar tuntas," tutupnya dengan senyum.

Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainnya dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.

Turut ambil bagian dalam perubahan besar. Sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LAZNAS Dewan Dakwah.

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis