10 Tahun Tak Merasakan Qurban: Timpangnya Pemerataan Qurban di Manggarai, NTT

Dipublikasikan : 23 Mei 2025

10 Tahun Tak Merasakan Qurban: Timpangnya Pemerataan Qurban di Manggarai, NTT

LAZNAS Dewan DakwahJauh dari bisingnya kota dan ramai jalanan, hanya terdengar desir ombak yang setiap hari membersamai keseharian masyarakat pesisir Manggarai, pulau Flores. Setiap hari disibukkan dengan mencari ikan yang hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan satu hari mereka. Menjadi buruh kasar hingga pacul pematang sawah orang, adalah pilihan untuk menambal kekurangan pendapatan.

Di musim kurban yang ramai pun, masyarakat pesisir Manggarai masih khusuk dengan rutinitas mereka. Meskipun termasuk agama minoritas, namun jumlah keluarga muslim yang menetap di sana mencakup ratusan KK.

Banyak daerah di Nusa Tenggara Timur yang masih kekurangan pemerataan kiriman hewan qurban. Salah satunya Kampung Datak, Desa Golo Ronggot, dan Kampung Lale Desa Lale, Kecamatan Welak, di dataran tinggi Kabupaten Manggarai Barat. Sudah 5 sampai 10 tahun terakhir mereka belum merasakan qurban. Masyarakat masih minoritas muslim karena banyak yang nikah beda agama dan masih marak pemahaman animisme.

Bukan tidak peduli dengan musim kurban, namun kurangnya da'i, keterbatasan kemampuan untuk kurban, dan lamanya mereka tidak mendapatkan daging kurban, perlahan-lahan mengikis antusiasme, termasuk tingkat religiusitas mereka.


Selain itu, adapula Kampung Tampode, Kampung Dosi, dan Kampung Asa Naga, setiap harinya mereka mungkin merasakan daging, daging ikan hasil pancingan. Sementara daging sapi atau kambing hanya dapat mereka nikmati sekali setelah bertahun-tahun, daging sisa kurban dari wilayah luar yang tidak tersebar merata untuk mereka.

Karenanya, begitu ustadz Abdul Malik membawa kabar bahagia kurban, masyarakat Kampung Dosi merasa kaget dan tidak percaya, mereka mengira ustadz muda tersebut hendak memberikan bantuan pembangunan rumah, perahu untuk mereka memancing, atau bantuan hewan ternak.

Penyembelihan hewan ternak menjadi kisah baru yang sangat mengesankan bagi mereka.

LAZNAS Dewan Dakwah menjadi nama yang terpatri dalam benak mereka, dengan harapan setiap tahunnya mereka juga dapat merasakan daging sapi atau kambing layaknya orang-orang kota.

“Masih banyak daerah-daerah di Manggarai khususnya di kawasan pegunungan dan pesisir seperti di Reok salah satunya, yang sangat membutuhkan dai. Penyembelihan hewan kurban di sini tidak lagi dimaksudkan untuk mengenalkan Islam, namun untuk menghidupkan lagi keislaman masyarakat yang selama ini telah wafat.” tutur ustadz Malik.

Tahun ini, jangan lupakan mereka ya sahabat. Yuk, kirimkan qurban untuk mereka bersama Laznas Dewan Dakwah dalam Qurbanku Dakwahku.

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis