Loading....
LAZNAS Dewan
Dakwah - Krisis air bersih melanda berbagai daerah
di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
mengungkapkan bahwa sebanyak 79% wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau
pada Agustus 2023 ini. Sembilan wilayah masuk kategori awas, yakni Banten, DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan.
Selain kemarau, kesulitan air juga sudah
terjadi di berbagai wilayah, baik karena kondisi lingkungan maupun iklim. Di
antaranya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa empat
kecamatan yang terdapat di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami kekeringan
karena kurangnya intensitas hujan yang mengakibatkan sumber mata air warga
berkurang dan warga kesulitan untuk memenuhi air bersih setiap harinya.
Ada pula wilayah yang terpengaruh musim
seperti Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Paska gempa tektonik yang
meluluhlantakkan Lombok pada 2018 lalu, saluran mata air rusak dan tersumbat.
Air bersih menjadi sulit diakses oleh warga, ditambah lagi kekeringan dan jarak
sumber air yang jauh.
Masyarakat harus membeli air dengan harga
150.000/tangki hanya untuk sekadar minum, mandi, dan sebagainya. Padahal,
selain harga air yang tak murah, mayoritas masyarakat adalah warga dhuafa dan
kurang mampu.
Di Banyumas, sumur-sumur warga sudah mulai
mengering. Bahkan, nenek Jaenah (70 tahun) rela menunggu berjam-jam di depan
cerukan mata air untuk bisa mendapat rembesan air. Meski hanya beberapa gayung
saja, namun itu sangat berharga bagi nenek Jaenah. (Kompastv, 4/9/2023)
Selain itu, ada pula Desa Kunjorowesi,
Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, setiap tahun mengalami krisis
air bersih karena kekeringan. Meski berada di bawah kaki Gunung Penanggungan,
air masih menjadi hal yang sulit di dapat. Tandon air warga yang digunakan
untuk menangkap hujan sudah hampir kosong. (CNN Indonesia, 3/9/2023)
Desa Sidang Raja, Tasikmalaya, Jawa Barat,
juga rela antre demi mendapatkan air bersih akibat bencana kekeringan.
Sumur-sumur warga sudah mulai mongering sejak sebulan terakhir. Kini mereka
banyak yang mengandalkan bantuan air bersih dengan membawa ember, galon, atau
jeligen untuk mendapat bantuanu air bersih tersebut. (Tvonenews, 3/9/2023)
Ada pula masyarakat di Kabupaten Klaten, Jawa
Tengah, warga mengalami krisis air bersih atau terdampak kekeringan pada musim
kemarau tahun 2023 ini. Selain mengandalkan bantuan air, warga di lereng Gunung
Merapi itu juga terpaksa membeli air bersih demi memenuhi kebutuhan selama
musim kemarau tersebut. (TribunJogja, 22/8/2023)
Sahabat, saat ini Laznas Dewan Da’wah
berupaya untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih dengan
menghadirkan program sedekah air bersih. Saat ini, program sudah berjalan dalam
bentuk penyaluran pembangunan sumur bor dan tempat wudhu, pembangunan MCK,
distribusi air minum galon, hingga distribusi air bersih menggunakan truk
tangka air yang berada di Klaten dan Lombok, NTB.
Dari Sa’id bahwasanya Sa’ad mendatangi Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Sedekah apa yang paling engkau
sukai.” Jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah air.” (HR. Abu
Daud dan An-Nasai, Ibnu Majah)
Air juga menjadi sumber kehidupan, maka tak
heran sedekah air menjadi amal yang paling disukai Rasulullah ﷺ. Karena itu kami mengajak kepada sahabat
semua untuk ikut berpartisipasi dalam program ini, bersama-sama atasi krisis
air di berbagai daerah penjuru negeri.
Dari Sa’id bin Al-Musayyib, dari Sa’ad bin
‘Ubadah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal dunia,
apakah boleh aku bersedekah atas namanya?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Iya, boleh.” Sa’ad bertanya lagi, “Lalu sedekah apa yang paling
afdal?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Memberi minum air.” (HR.
An-Nasai)
Yuk, alirkan pahala sedekah air untuk
saudara-saudara kita di berbagai daerah.