Anak Ngoyo Binaan LAZNAS Dewan Da'wah nyantri ke tanah jawa

Persiapan Dakwahi Kaumnya, 5 Remaja Gunung Tokala Nyantri ke Jawa

Melati Fadla

LAZNAS Dewan Da’wah – Bersama Ustadz Sigit, lima anak pedalaman Kampung Ngoyo, Morowali Utara, tiba di Rumah Besar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Kramat, Jakarta Pusat, Kamis (27/8). Kelimanya akan melanjutkan pendidikan sekolah atau Nyantri dan tahfidz Qur’an di Pondok Pesantren Ar-Rahmah Dewan Da’wah Sukabumi.

Bagi anak pedalaman, belajar di tanah jawa menjadi kesempatan luar biasa. Pendidikan tidak hanya membangun peradaban diri mereka, tetapi juga untuk tanah kelahiran mereka, Pedalaman Ngoyo.

Tiga dari lima anak remaja pedalaman tersebut telah nyantri selama 1 tahun di Ponpes Ar-Rahmah. Di antaranya Ubaidillah (Ngoyo), Kholid (Ngoyo), dan Sigit (Tanasumpu), pulang untuk memberitahu kabar dan perkembangan mereka kepada orangtua di pedalaman. Haru dan bangganya orangtua semakin mendukung ketiga kembali menyantri dan menghafalkan Al-Qur’an. Bahkan, mengajak serta 2 teman mereka yang juga sudah masuk Islam tahun 2015 lalu.

‘’Ubaidillah dan Kholid setelah pulang belajar dari Jawa, kini bisa memimpin shalat di masjid. Bahkan, menjadi imam dan khotib saat shalat ied (Idul Adha 1441). Saya melihat saudara saya keduanya pulang liburan mengalami perubahan yang baik. Ingin sekali bisa mengukuti jejak mereka,‘’ ujar polos anak pedalaman Ngoyo, Muhammad Abdullah (16) yang bernama asli Wusu.

‘’Saya punya keinginan besar bila nanti pulang nyantri ke kampung bisa mengajak keluarga saya yang belum berislam, agar semua bisa masuk agama Allah,’’ ujarnya yang masih duduk di kelas 6 SD di SDIT Al-Muhajirin Ngoyo, dengan terbata-bata. Sebab ini menjadi pertama kalinya, Abdullah keluar dari pedalaman dan bisa sampai ke Jakarta.

Ngoyo merupakan salah satu kampung tempat menetapnya suku asli Tau Taa Wana. Hingga kini, sebagian besar komunitas masayarakat ini masih hidup primitif dan nomaden. Baru sebagian yang mau diajak hidup dari nomaden menjadi bermukim. Mereka melihat Islam yang dibawa para da’i, berbeda dengan agama lainnya.

Para da’i pedalaman Dewan Da’wah tidak pernah menawarkan agama kepada suku pedalaman ini. Namun, bagaimana caranya bisa membangun peradaban mereka. Sebab itu, mereka berbondong- mereka masuk Islam atas pilihan hati mereka sendiri. Tanpa ada penawaran, apalagi pemaksaan. Semuanya murni panggilan hati. Bahkan, di tengah Februari 2020 lalu, 300 suku Tau Taa Wana dari pedalaman Ngoyo (Gunung Ngoyo) dan pedalaman Lambentana (Gunung Tokala) berikrar syahadat bersama-sama.

5 anak ngoyo nyantri

‘’Saya berharap 6-7 tahun ke depan, banyak anak Ngoyo yang sudah tamat SD, SMP, SMA, dan lanjut ke STID Mohammad Natsir. Kemudian, mereka bisa pulang dan mendakwahkan Islam kepada saudar-suadaranya di pedalaman,’’ ujar Bapak Penggerak dakwah Tau Taa Wana, Ustadz Sigit, yang mengantarkan langsung 5 anak Ngoyo nyantri ke Ponpes Ar-Rahmah.

‘’Mereka dapat seperti ini melalui wasilah dana umat dan nanti akan bertanggung jawab kepada umat,’’ pungkasnya yang telah berdakwah di Ngoyo sejak tahun 2002 lalu.

Bagikan:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*