2 Hal yang Dicintai Allah dan Termasuk Kebaikan yang Mulia

Nikmat Rizal

LAZNAS Dewan Dakwah – Mengagungkan Allah serta berbuat baik kepada sesama makhluk hidup adalah 2 hal yang dicintai Allah dan termasuk yang kebaikan mulia.

Ada dua hal yang sangat dicintai Allah SWT, serta termasuk suatu kebaikan yang mulia. Kedua hal ini dijelaskan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani di dalam Kitab Nashoihul ‘Ibad.

Pada sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama. Baik dengan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya.”

Rasulullah juga bersabda: “Barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang Islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala haji yang mabrur.”

Pada Hadist lain juga disebutkan, “Hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, atau membayarkan utangnya.”

Sedangkan dua hal yang lebih buruk yaitu berbuat syirik kepada Allah serta mendatangkan suatu bahaya kepada kaum muslimin. Baik yang membahayakan badannya, atau hartanya. Karena sesungguhnya semua yang diperintah Allah SWT kembali kepada dua hal tersebut. Mengagungkan Allah serta berbuat baik kepada sesama makhluk sesuai dengan firman Allah Ta’ala yaitu “Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat”. Serta firman Allah yang berbunyi: “Hendaklah kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu”.

Anjuran untuk dapat Duduk Bersama Ulama juga dijelaskan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani yang juga memberi sebuah nasihat supaya kaum muslim memperbanyak duduk bersama para ulama. Rasulullah SAW bersabda: “Wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para ulama”. Artinya adalah yang mampu membagikan ilmunya, serta mendengarkan sebuah nasihat dari para pemuka agama Islam yang artinya adalah orang yang mengenal Allah.

Karena hanya Allah yang akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah juga ilmu yang bermanfaat sama seperti Allah menghidupkan bumi ini yang mati dengan air hujan. Di dalam riwayat lain yang dikutip dari Imam At-Thabrani dari Abu Hanifah: “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para Ulama dan berkumpullah kamu dengan para ahli hikmah”.

Ulama itu ada Dua Macam, beliau adalah:

  1. Ulama Ahli Fiqih
    Yaitu, orang yang Alim serta mengetahui tentang hukum-hukum Allah. Mereka itu adalah yang memiliki fatwa dan yang paling mengerti tentang fiqih serta persoalan umat.
  2. Ulama Ahli Ma’rifat
    Orang yang mengenal Allah. Jika bergaul dengan beliau akan dapat memperbaiki akhlak diri kita, karena sesungguhnya hati mereka sudah bersinar sebab bentuk taatnya kepada Allah. Sama halnya juga dengan sirr (rahasia) mereka telah bersinar disebabkan nur kebesaran Allah.

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akan hadir suatu masa atas umatku, mereka justru akan menjauh dari para ulama, maka Allah yang akan memberikan cobaan kepada mereka yaitu dengan tiga cobaan.

  1. Allah akan menghilangkan sebuah berkah dari rezeki yang didapatkan.
  2. Allah akan mengirimkan kepada mereka penguasa yang zalim.
  3. Mereka juga akan keluar meninggalkan dunia tanpa membawa iman dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Na’udzubillahi min dzaalik.
Bagikan:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*