Laznas Dewan Dakwah

Gempa Bisa Diprediksi dengan Geomagnetik

Sudah ‘tak asing bagi penduduk Indonesia berinteraksi dengan gempa. Wilayahnya yang dilalui episentrum gempa zona subduksi, backtrust, dan megatrust, menjadikan Indonesia sebagai ‘supermarket gempa’.

Dalam satu tahun terakhir, ribuan orang di Indonesia ‘tak terselamatkan nyawanya melalui kejadian gempa. Bencana alam, khususnya gempa memang sudah menjadi takdir Allah. Tapi, alam pun tidak ‘mendadak’ berkecamuk. Melainkan ada gejala-gejala yang dapat dikenali agar manusia mawas diri.

Dr. Teti Zubaidah, ahli geomagnetik dari Univeristas Mataram, Lombok mengembangkan early warning system kegempaan melalui pengukuran kekuatan magnetik beberapa jam, hari, bulan, bahkan tahun sebelum kejadian terjadi.

“Ini adalah hipotesis yang sedang kita bangun. Tapi, bukan sekedar dihipotesakan begitu saja. Melainkan sudah ada bukti-bukti dari beberapa kejadian gempa terakhir,” paparnya kepada tim Laznas Dewan Da’wah dalam Disaster Outlook 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (31/1).

“Di beberapa negara lain, yaitu Jepang, Itali, dan Yunani juga mengembangkan hal tersebut,” imbuhnya.

Teti menuturkan, perubahan nilai magnetik di atas nilai wajar perlu diwaspadai. Kurang lebih 5-6 jam sebelumnya, kekuatan magnetik dratis menurun.

“Ketika kita sudah melihat ketidakwajaran dari sinyal sinyal itu kita harus sudah curiga,” ujarnya.

“Perubahan yang signifikannya terlihat pada 5-6 jam sebelum gempa. Sedangkan perubahan yang perlahan bisa dilihat dari 2 tahun sebelumnya. Apabila akan terjadi gempa 2 tahun lagi, maka saat ini sudah mulai bisa terdeteksi,” jelasnya mendetail.

Ia menambahkan bahwa tren magnetik bumi memang cenderung menurun. Namun, penurunan tersebut memiliki batas ambang kewajaran, yaitu 25 nanotesla pertahun. Pada kasus gempa tertentu telah menurun hingga mencapai 75 nanotesla pertahun (3 kali lebih besar dari kewajaran). Hal tersebut mengindikasikan akan terjadinya gempa. Penurunan semakin meningkat drastis beberapa jam sebelum gempa terjadi.

Banyak gempa yang berhasil diprediksi dengan tepat melalui pengukuran yang menggunakan magnetometer ini, yang terbaru adalah gempa Sumbawa 22 Januari lalu.

“Sejak akhir Desember 2018 lalu, kita telah melihat Sumbawa bagian selatan magnetiknya menurun sekali. Tim kami memprediksi wilayah ini akan mulai aktif. Ternyata akhir januari 2019 ini memang benar terjadi,” katanya.

Sayangnya temuan yang sangat bermanfaat ini belum terakomodir menjadi mitigasi bencana nasional. Dr. Teti Zubaidah dan para ahli geomagnetik lainnya di Lombok Geomagnetic Observatory, Desa Rembitan, Lombok Tengah, masih belum mengetahui pihak yang tepat untuk mengakomodir data dan informasi gempa-gempa yang akan terjadi.

“Itu adalah sebuah peluang. Terus terang kita masih kerepotan. Kalau bicara di kondisi rill, ketika kami punya data magnetik sudah berubah 3 jam yang lalu. Berartikan waktu kita tinggal 3 jam lagi sebelum gempa terjadi. Untuk saat ini kita belum tahu mau memberitahukan ke siapa. Kalau mau memberitahukan ke pihak tertentu akan menimbulkan efek yang seperti apa,” pungkasnya.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *